Bismillahirrohmanirrahim. Akhir-akhir ini aku sering sekali menjadi tempat curhat wkwk, baik itu di keluarga ku, di tempat kerja, di lembaga organisasi dan dimana-mana pun itu. Di satu sisi, aku lebih suka mendengarkan dibandingkan bercerita, tapi aku juga tidak sulit untuk memulai bertanya memancing orang lain bercerita hingga suasana tak hening dan kaku seperti biasa. Eh, aku juga suka kok bercerita hehe. Tapi di sisi lain, segala sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Menjadi tempat curhat, secara tidak langsung terkadang melibatkan ku pada masalah itu, dimana aku dititipkan amanah untuk saling menyampaikan pesan. Rasanya? bahagia karna bisa membantu, sedih karna memang tak semudah itu, dan bahkan ku takut bahwa aku dikira ikut campur padahal sungguh ku tak membela siapapun pada pihak-pihak itu. Menjadi pendengar, memberi nasehat sepengetahuan ku, memberi semangat, tak menghakimi siapapun, mendoakan, hanya itulah yang bisa ku lakukan. Sempat aku menerima telfon seseorang yang menangis karena ia begitu sayang dan merasa telah bertanggung jawab kepada ibunya, tapi ibunya tak pernah menelponnya ataupun tak mau mengangkat telfonnya , dan tak peduli pada sulitnya ia di tanah rantau. Aku pun ikut menangis :’).
Hingga kembali ku diingatkan oleh kakak, bahwa aku jangan terlalu memikirkan urusan orang lain, dikarenakan kata kakak aku hanya akan lelah memikirkan itu, dan aku rasa itu benar. Aku adalah pribadi yang jarang sekali menceritakan masalah ku, tapi aku tak tahu apakah orang-orang berpikiran seperti itu atau tidak. Walau seringkali aku update medsos tentang beberapa hal, hehehe, jika terkesan galau dan penuh masalah, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk itu :’). Aku justru takut sharing kebahagiaan karena takut ada yang sedih, karena barangkali ada yang sedang diuji dengan hal-hal yang mungkin saat itu Allah titipkan pada ku.
Aku kembali tersadar, bahwa setiap orang itu punya masalah ya, tak akan pernah lepas, bahkan masalah itu ada pada hal-hal yang tidak aku duga. Menghindar hanya akan menambah masalah lainnya. Membuat ku belajar, bahwa ya tugas kita haruslah sungguh-sungguh terhadap berbagai setiap hal, karena hidup ini bukanlah tempat ujian dari Allah Subhanallah Ta’ala?
Aku juga belajar, bahwa segala sesuatu itu punya resiko, bahkan tidak melakukan apapun ialah suatu pilihan yang juga mengandung resiko. Not taking a risk is a risk. Yap. Aku rasanya sangat bersyukur aku adalah seorang Muslim, karena setiap hal dalam kehidupanku sudah begitu di atur:’), eh hehe maafkan oot. Intinya, jangan pernah takut terhadap resiko, di saat kamu sudah memutuskan akan sesuatu, bersungguh-sungguh lah. Mulailah segala sesuatu dari dirimu, mulailah dan teruslah improvement. Sungguh rahmat Allah itu begitu luas, dan Allah tak akan pernah membebani mu melebihi kemampuan mu, kamu harus percaya kamu bisa, ya?
Aku juga belajar bahwa banyak sekali konflik itu terjadi karena setiap orang saling menuntut orang lain mengerjakan perannya, tapi tidak dengan dirinya. Di saat seseorang sudah berusaha sekuat tenaga, tak ada yang menghargainya, atau ia hanya merasa sendiri, tak ada yang peduli dengannya, tak ada yang mencintainya, walaupun ia merasa sudah memberikan begitu banyak hal kepada orang lain. Rasanya, itu lah simpul dari setiap permasalahan itu. Disaat orang lain menuntut hal-hal di luar yang bisa ia atur, tapi ia tidak menuntut dirinya melakukan yang sebaik-baiknya. Seorang ibu menuntut anaknya untuk menjadi anak yang sholeh/ah dimana sang anak juga menuntut ibunya untuk peduli padanya, padahal seharusnya seorang ibu wajib menjadi ibu yang sholehah dan anak juga wajib menjadi anak yang sholeh/ah. Seorang pemimpin menuntut timnya untuk mengerjakan proker-prokernya dan tim pengurus menuntut pemimpin peduli dan membersamainya, padahal setiap bagian dalam tim tersebut harus melaksanakan, peduli dan bersama membersamai, dan berbagai hal bentuk tuntut-menuntut lainnya :’). Maka solusi terbaik menurutku dari setiap permasalahan yaitu ialah dengan paradigma ‘memberi’. Di saat seseorang ingin selalu memberi, ia tak pernah marah ketika tak ada yang menghargainya, atau di saat orang lain mengambil hak nya, atau ketika orang lain tak adil padanya, atau ketika tak ada yang peduli dengannya, dan berbagai hal lainnya. Memberi itu bagiku begitu indah, ia adalah bukti cinta. Memberi bagik itu begitu bermakna, bukan tentang aku dan siapa yang aku beri, tapi tentang Allah yang percaya pada ku untuk menjadi jalan pemberian itu kepada ia. Ini tentang aku dan Rabb-ku, dan aku percaya, bahwa setiap hal yang dititipkan pada ku, Allah lah yang mengurusi setiap halnya :’). Memberi itu tentang menyampaikan, tentang menjadi bagian dari lapis-lapis keberkahan, karena nyatanya bukankah kita tak pernah memiliki di dunia ini? :’)
Last but not least, saat kita memudahkan urusan orang lain, Allah subhanallah ta’ala Alan memudahkan urusan kita pula! Hingga akhirnya urusan kita selalu memiliki jalan yang tak disangka-sangka dan insyaaAllah semuanya kan baik-baik saja, jadi hayu kita berusaha untuk terus memberi tanpa berharap kembali karena hanya ridho Ilahi lah yang menjadi tujuan kita disini~
P.s: huhu maafkan aku…, bukan berarti curhat itu salah…, bahkan aku merasa itu hal yang penting untuk dilakukan. Aku juga terkadang menceritakan problem ku juga untuk meminta nasehat atau menceritakan keresahan ku wkwk, tapi usahakan kita cerita pada orang yang dapat dipercaya dapat memberikan jawaban ataupun menenangkan keresahan itu~
#selfreminder