Pra-rancangan Budidaya Pakcoy (Brassica rapa subsp.chinensis) dengan Sistem Deep Flow Technique yang Terotomatisasi

Kebutuhan sayuran sawi meningkat cukup tinggi di Indonesia dan diprediksi akan terus meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistika dalam rangka Hari Gizi Nasional (2017) menyebutkan bahwa tingkat konsumsi masyarakat terhadap sayuran sawi pada tahun 2015 sebesar 532,37 ton menjadi 539,80 ton pada tahun berikutnya sebagai akibat dari bertambahnya 3 juta penduduk di Indonesia dari 254,89 juta jiwa menjadi 257,89 juta jiwa. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan tingkat konsumsi atau kebutuhan masyarakat terhadap tanaman sawi. Peningkatan jumlah penduduk ini akan terus terjadi setiap tahunnya, bahkan menurut Badan Pusat Statistika (2013), jumlah penduduk Indonesia diprediksi akan mencapai 305 juta jiwa pada tahun 2035 nanti. Salah satu jenis sawi yang banyak di konsumsi adalah pakcoy. Pakcoy memiliki manfaat untuk mencegah kanker, hipertensi, dan penyakit jantung sehingga membantu kesehatan pada berbagai sistem pencernaan dan juga mampu mencegah anemia bagi ibu hamil (Husnaeni dan Mieke, 2018). Namun, berdasarkan data dari Kementerian Pertanian Dirjen Hortikultura (Taufik, 2015), tingkat produktivitas tanaman sawi menurun drastis dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2013, produktivitasnya sebesar 10,10 ton/hektar sedangkan 2014 sebesar 9,91 ton/hektar. Bahkan nilai pada tahun 2014 tersebut masih di bawah produktivitas tanaman sawi pada tahun 2009 yang sebesar 9,98 ton/hektar. Karenanya, diperlukan upaya untuk meningkatkan produktivitas pakcoy untuk meningkatkan produksi dan memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Salah satu solusi untuk meningkatkan produktivitas pakcoy yakni dengan membuat hidroponik yang terotomatisasi. Proses produksi pakcoy menggunakan hidroponik Deep Flow Technique (DFT) yang terotomatisasi dengan cara memanfaatkan berbagai perangkat teknologi untuk menggantikan sebagian peran manusia selama proses produksi. Proses produksi diawali dari benih pakcoy yang disemai menggunakan media rockwool basah selama 14 hari. Setelah disemai, pakcoy dipindahkan ke titik tanam pada pipa hidroponik hingga 26 hari setelah tanam. Pemberian nutrisi dan air dilakukan dengan memanfaatkan sistem otomatisasi sehingga tidak memerlukan pekerja untuk melakukannya.

Selain itu, sistem otomatisasi juga diaplikasikan dalam penghentian pompa secara berkala setiap harinya untuk menghemat biaya listrik yang digunakan selama proses penanaman. Otomatisasi tersebut dijalankan dengan menggunakan sensor EC meter dan sensor water level sebagai perangkat penerima informasi sehingga dapat mengetahui kadar EC dan ketersediaan air yang berada dalam reservoir, kemudian Arduino sebagai microcontroller yang dapat mengolah informasi EC dan ketersediaan air sehingga dapat membuat keputusan bagi aktuator, serta solenoid valve dan motor sebagai perangkat aktuator atau penggerak yang mengatur pengeluaran nutrisi AB Mix, air, dan memastikan keduanya tercampur merata.

Otomatisasi juga didukung oleh perangkat lain seperti Real Time Clock (RTC), relay, dan power supply. Kemudian pemanenan dilakukan dengan memanfaatkan pekerja lepas yang dibayar untuk memanen pakcoy. Rasio R/C dari produksi pakcoy menggunakan hidroponik DFT yang terotomatisasi adalah 1,457. Pra-rancangan sistem produksi pakcoy memiliki target kapasitas produksi biomassa pakcoy sebesar 8,25 ton/tahun dengan produksi pakcoy per minggu sebesar 158,71 kg. Penanaman dan pemanenan dilakukan setiap minggu pada empat instalasi hidroponik. Satu unit screenhouse berukuran 522 m2 terdiri dari 16 instalasi hidroponik DFT dengan tiap instalasi memiliki 496 lubang tanaman. Produk yang dihasilkan oleh CV Readycelle berupa pakcoy hidroponik segar yang akan dijual dengan harga Rp 50.000,- per kg. Produk ini akan dipasarkan ke supermarket dan konsumen yang berbasis di Bandung dan Jakarta. Biaya investasi awal yang dibutuhkan untuk menjalankan usaha ini adalah Rp 450.000.000,-. Modal untuk investasi awal diasumsikan seluruhnya berasal dari pemilik perusahaan. Besar pendapatan yang didapat dari estimasi penjualan pakcoy per tahun adalah sebesar Rp 412.672.000,-. Perusahaan akan menerima keuntungan ketika produksi pakcoy berada di atas BEP (Break Even Point) yakni 4.649 kg dengan jumlah penjualan Rp 232.453.504,- per tahun. Lama periode agar modal yang diinvestasikan dapat kembali adalah 1 tahun 7 bulan setelah usaha mulai berjalan. Net Present Value (NPV) diperoleh sebesar Rp277.336.398,- dan Internal Rate of Return (IRR) perusahaan sebesar 28,32%. Berdasarkan hasil analisis finansial tersebut, pra-rancangan usaha ini layak dijalankan.

Kata Kunci: Hidroponik, otomatisasi, pakcoy.

Notes: Tugas akhir ini ialah yang tugas akhir pertama kali yang menjalin kerjasama dengan jurusan lain dan memperoleh Best Poster dari tugas akhir wisudawan oktober rekayasa pertanian:’)

Published by Azila Nuzwar

Di dalam hidup, sesulit apapun, penting untuk kita menjadi orang yang bahagia. Dengan bersabar dalam setiap usaha, bersyukur atas setiap hal, dan istighfar sebagai perantara untuk bisa mendapatkan rahmat Allah SWT yang sangat besar.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started