Tentang Rasa
Bismillah, Alhamdulillah. Tentang merasa cukup atau yang biasa kita kenal dengan qona’ah, seperti sebuah sikap merasa cukup atas pemberian Allah SWT atas berbagai hal nya. Sebuah rasa merasakan kekayaan bahkan di saat orang lain begitu cemas dan melihat orang tersebut hidup dalam kekurangan. Dimana orang yang memiliki sikap ini akan tenang dalam menjalani kehidupan. Ia tidak mau meminta-minta, ia juga tak berharap pada orang lain, termasuk kekayaannya, ia bahkan suka menolong, sekalipun orang lain melihatnya patut untuk ditolong. Ia lebih memilih lapar dan berusaha sangat keras dibandingkan meminta, ia juga tak tertarik dengan berbagai harta benda di luar sana, ia merasa cukup dengan apa-apa yang Allah SWT titipi padanya, bahkan ia merasa sangat kaya, segala hal yang dititipi padanya saat ini begitu terasa ‘berlebih’ untukya, sehingga ia juga suka berbagi. Ia mampu menikmati hal-hal yang begitu sederhana, dimana orang lain menganggapnya “apa enaknya?”. Walau ada banyak kesusahan dan kesulitan yang datang, ia tetap terlihat tenang dan bersyukur bahwa nikmat yang dititipkan padanya masih sangat banyak dibandingkan kesusahan dan kesulitan itu, sehingga ia tetap terlihat baik-baik saja. Terhadap apa-apa yang berlalu ia tidak sedih, pun juga terhadap apa yang akan datang ia tak cemas. Ia seperti orang lain pada umumnya, ia bekerja, ia belajar, ia hidup seperti manusia biasa, tapi sungguh hatinya sangat merasa cukup atas berbagai hal dan ia telah merasakan surga walau ia masih di dunia. Orang yang qona’ah pada realitasnya tidak selalu hidup sederhana, juga bisa jadi adalah sangat kaya, ditambah kekaaan hatinya yang merasa cukup membuatnya begitu teramat kaya dan bahagia tentunya. Ia mampu beristirahat dengan tenang, ia tak terikat dengan berbagai hal nya karena apapun yang terjadi baginya semuanya cukup. Sungguh, enough is enough Alhamdulillah~
Tentang Dunia dan Manusia
Dunia tak pernah punya titik untuk berhenti. Semakin ia dikejar, semakin dunia kan menarik mu. Hingga suatu saat akan tiba di suatu batas point-of-no-return, sebuah kematian? Walaupun hal yang dikejar itu positif?
Ya, semua hal yang kita anggap positif hanyalah sekedar justifikasi di dalam pikiran. Karena pada dasarnya secara metafisis, alasan hanyalah konstruksi dari kehendak manusia. Ketika kita melakukan sesuatu, kita bisa memunculkan ribuan alasan yang logis untuk bisa mendukung tindakan tersebut, meskipun sebenarnya kita hanya sekedar ‘ingin’ melakukannya. Itulah luar biasanya ‘logika’, alat rasionalisasi hasrat paling efektif. Sehingga tak jarang perkara meluruskan niat membutuhkan kesucian hati untuk bisa melakukannya. Rasulullah SAW pernah bersabda:
Seandainya manusia memiliki satu bukit emas, niscaya ia akan mengharapkan dua bukit emas lagi, dan tidaklah perutnya dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah akan menerima taubat siapa yang bertaubat
HR.Bukhari No.6439
Itulah mengerikannya hasrat dunia dan hawa nafsu, sebuah sikap tamak yang lawannya ialah merasa cukup atau qona’ah. Hasrat dunia dan hawa nafsu ini punya kemampuan auto-update. Semakin dipenuhi, semakin besar keinginannya. Seseorang yang terbiasa makan singkong sehari-harinya, ketika merasakan makan nasi dan ayam, maka makan singkong tak senikmat biasanya. Sekali hasrat dunia terpenuhi, ia akan auto-update dan no-return, membuat kita lupa kondisi awal, sehingga bersyukur sering menjadi hal yang sulit bagi manusia.
Itulah kenapa kita harus berhati-hati dengan dunia. Dalam khazanah tasawuf, dunia digambarkan seperti lautan, yang semakin kita meminumnya maka kita akan semakin haus. Salah satu hikmah batiniah dari riwayat nabi-nabi yang berurusan dengan laut. Seperti nabi Nuh a.s. yang membangun bahtera, nabi Musa a.s yang membelah dan berjalan ditengah lautan, nabi Yunus a.s yang terbawa ke kedalaman lautan oleh ikan dan nabi Isa a.s yang berjalan diatasnya. Kisah ini membawa makna simbolik tentang sikap kita terhadap laut yang merupakan representasi dari dunia, yang luas, memiliki begitu banyak hal menarik dan indah di dalamnya, tapi ia menenggelamkan. Lalu, apakah semua hal yang berususan dengan duniawi harus dihindari?
Tentu tidak. Karena yang tertarik pada dunia hanya sekedar ‘jasd’ kita saja, dimana manusia terdiri dari jasd, nafs dan ruh. Yang harus dikendalikan hanyalah jasd dan yang mengendalikan adalah nafs. Diibaratkan bahwa jasd adalah kuda dan nafs adalah penunggang kuda. Idealnya tentu kuda harus patuh pada penunggangnya. Penunggang harus tahu apa yang dibutuhkan si kuda untuk tetap menjalankan misinya dengan memberikan kadar yang secukupnya, agar ia bisa mengendalikan kuda tersebut. Tidak mengekangnya karena kuda juga memiliki kebutuhan, seperti makan, minum, buang air, dll.
Jasd punya magnet terhadap hal-hal duniawi sebagai kebutuhan dasar, tapi ia membutuhkan tuntutan yang ketat oleh nafs agar nafs kita tahu cara menundukkannya. Lalu, dunia hanya seperti kuda?
Begitulah pengibaratannya, dimana dunia hanya sekedar hewan tunggangan dimana ada tujuan yang ingin dicapai oleh nafs, suatu amr yang ditetapkan Allah SWT padanya untuk dipenuhi, mengingatkan betapa pentingya tazkiyatun nafs dalam kehidupan kita.
Barangkali, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk agar kita bisa bersikap qonaah:
- Menyadari jika ada hal-hal yang diinginkan tidak lah harus dipenuhi, mencoba jujur terhadap hal-hal yang sebenarnya lebih penting
- Hiduplah untuk memberi, bukan menerima. Rutin berbagi kepada makhluk hidup lainnya, melalui harta, ilmu dan kontribusi. Kepada manusia, hewan ataupun tumbuhan. Baik dalam keadaan sempit ataupun lapang.
- Menundukan pandangan terhadap nikmat-nikmat pada orang lain. Yakinlah, jika itu rezeki kita maka ia akan tetap sampai kepada kita. Karena kekayaan itu letaknya di hati dan kemiskinan itu letaknya di mata. Lihatlah orang-orang yang kurang beruntung di bandingkan kita agar kita bisa bersyukur dan merasa cukup
- Jika ada hal-hal yang menjadi keinginan kita, berdoa dan berusahalah terhadap sebab-sebab yang bisa mewujudkan doa tersebut. Apapun hasilnya, teruslah bersyukur dan yakinlah bahwa ini semuanya sudah sangat banyak
- Bekerjalah untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, jangan meminta-minta sekalipun itu kepada keluarga dekat
- Hidup sederhana, baik dari tempat tinggal, makanan, pakaian, atau lainnya.
- Terus belajar terhadap hal-hal yang sedang dibangun untuk bisa merasakan keberkahannya nanti.
- Membiasakan diri untuk berdoa semoga Allah memberikan sikap qona’ah, ridho, terhadap kita,
- Bersyukurlah kepada Allah SWT selalu apapun yang terjadi, bersyukurlah terhadap orang lain dengan ucapan terimakasih padanya apapun yang terjadi
- Dll
Lalu, semoga, Allah SWT memberikan sikap qona’ah terhadap hati kita, sehingga kita bisa merasakan surga di dunia, kapanpun, apapun, dimananapun:”)