…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…
Q.S.Ar-Ra’d (13) : 11
Bismillah, Alhamdulillah. Sebelumnya aku sempat mencari kurikulum atau teknis tentang hal-hal yang berkaitan dengan self-evaluation. Harapannya aku ingin mendapat gambaran besar tentang bagaimana mengevaluasi diri secara menyeluruh, tetapi aku tak mendapatkannya, umumnya teknis-teknis ini dijelaskan pada format-format yang lebih kecil seperti ‘mengubah kebiasaan’, ‘cara mengambil keputusan’, dll, bahwa sungguh manusia itu sangat kompleks dan dirilah yang bisa menyaari kebutuhannya seperti apa. Lalu, teringat bahwa topik ini telah dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam percikan Ihya Ulumuddin pada tema tafakur dan taubat. Bahwa yang membuat manusia itu berbeda ialah ia dikaruniai kesadaran, yang bisa menyadari ada hal-hal yang salah yang mesti diperbaiki. Tapi, kesadaran itu tidaklah cukup jika tak melalui proses berfikir. Tafakur, atau sederhananya kita sebut dengan merenung akan membuat kita mengambil sikap memperbaiki diri menjadi lebih baik (taubat).
Bagi ku, evaluasi diri seharusnya tak cukup menjadi moment tahunan, tapi bisa selalu dilakukan di dalam keseharian kita, dalam setiap detik kehidupan kita bisa saja kita tiba-tiba tersadar. Dimana setiap saat kesadaran kita aktif, dan saat itulah kita bisa sadar akan berbagai hal. Tapi, karena manusia mudah lupa, kita selalu bisa menuliskannya secara utuh terhadap berbagai hal itu dengan format-format yang kita mudah untuk bisa mengevaluasinya kembali.
Evaluasi diri akan bisa menjadikan diri lebih baik dibandingkan sebelumnya, lebih kuat, lebih produktif, lebih bahagia serta berbagai kualitas kehidupan lainnya. Tentu, kualitas-kualitas diri yang ingin dikembangkan oleh setiap insan adalah berbeda bergantung kepada kehendak, kemauan dan cita-cita tentang dirinya. Evaluasi diri akan membuat kita mengenal karakter pribadi, mengenali potensi diri, mengetahui gaya komunikasi, sikap kita terhadap lingkungan sosial dan mengenal pola pikir dan emosi, serta yang paling utama ialah peningkatan kualitas dan kuantitas amalan fisik dan batin kita.
Setiap tujuan tentu punya hambatan, termasuk di dalam evaluasi diri. Adanya ke-aku-an yang besar, kesombongan diri, kemapanan, kemunafikan serta ketidakjujuran dalam mengungkapkan data ialah beberapa diantaranya. Agar bisa terus lebih baik maka kita haruslah punya keinginan untuk memperbaiki diri, jujur, terbuka, berani, tidak gengsi dan siap menerima kenyataan bahwa kita memang tak sebaik itu:”). Maka mungkin, berikut adalah tips yang bisa digunakan untuk self-evaluation:
- Mengarsipkan tulisan-tulisan tentang hal ini pada drive khusus. Salah satunya bisa menginstall apps Keep Notes dari Google yang jika suatu saat jika terjadi kehilangan smartphone maka data ini tetap bisa diakses nantinya; menulis di buku catatan pribadi dan lainnya.
- Membiasakan menulis catatan harian. Bisa memulainya dari yang paling mudah seperti menuliskan apa yang kamu rasakan, apa yang kamu syukuri, apa yang kamu pelajari, serta kesimpulan-kesimpulan kecil yang kamu peroleh. Jika tak terbiasa melakukannya setiap hari, maka bisa tetap memulai saja melakukannya, misalnya setiap bulan ataupun setiap minggu. Dalam menyimpulkan sesuatu, ada banyak hal yang membutuhkan waktu yang lama, sehingga menulis setiap hari barangkali tidak cocok untuk sebagian orang, tetapi barangkali setiap bulan ataupun setiap satu project terselesaikan. Hal ini agar kelak kamu menyadari bahwa kamu telah melalui perjalanan yang panjang, menjadikan kamu lebih menghargai diri sendiri dan menjadikan hari-hari memiliki arti.
- Membuat agenda harian, mingguan, bulanan dan tahunan terhadap target tujuan mu. Jika membuat agenda harian dirasakan terlalu berat hingga tidak terlaksana, maka kamu bisa memulainya dari hal-hal kecil yang paling mudah untuk dilakukan. Jika sudah terbiasa maka kamu bisa meningkatkan kuantitasnya atau kualitasnya.
- Pastikan dalam setiap amalan fisik kamu juga dibersamai oleh amalan hati karena kesucian hati itulah yang menjadi hakikat kebahagian di dalam diri. Amalan hati itu seperti niat, ikhlas, sabar, tawadhu, bersyukur, harap, takut, malu, dll. Amalan hati dan amalan fisik saling terkait dan mempengaruhi dimana amalan fisik (sholat, puasa, amal ma’ruf nahi munkar, dll) akan menguatkan keimanan (amalan hati) dan amalan hati juga akan membuat kita semangat dalam melakukan amalan fisik. Perhatikanlah tanda-tanda cacat-cacat hati pada diri mu, karena sungguh hanya masing-masing dirilah yang tau.
- Memiliki tujuan yang jelas dalam setiap apa yang ingin kamu lakukan, dengan tujuan utamanya tentu ialah meraih keridhoan Allah SWT. Membuat tujuan mungkin bagi sebagian orang adalah hal yang sulit jika tak terbiasa, tapi dengan ini kita akan lebih fokus dan tidak mudah tergoda oleh hawa nafsu kita sendiri.
- Memohon petunjuk Allah SWT di dalam setiap Al-Fatihah kita serta dalam do’a kita agar semoga Allah SWT menunjukkan cacat-cacat diri kita dan memudahkan kita untuk memperbaikinya.
- Berdoa memohon agar Allah SWT memberikan akal yang lurus, hati yang suci, Iman yang kuat, akhlak yang baik dan tubuh yang sehat. Beserta ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan amalan yang diterima.
- Berusaha menambah ilmu dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas amal
- Bersungguh-sungguh untuk terus lebih baik tanpa merasa sudah baik
- Membantu oranglain untuk lebih baik bersama-sama (Amal ma’ruf) dan berusaha mencegah kejahatan (Nahi munkar)
- Selalu berusaha untuk memulai kebaikan dari diri sendiri
Tentu, di dalam setiap proses memperbaiki diri, kita akan salah, bosan, lelah dan juga lupa. Barangkali untuk beberapa hari, bulan atau hingga bertahun-tahun kita tidak introspeksi diri. Tapi, Imam Al-Ghazali pernah menuliskan bahwa orang alim yang hakiki tidak akan mau berbuat maksiat, karena ia jijik dengan hal itu. Sesekali mungkin terpelesat, tapi tidak selalu terpeleset dan tidak berbekal dengan maksiat itu. Orang mukmin ialah orang yang tak luput dari cobaan dan orang yang bertaubat.
Yuk, kita semangat memperbaiki diri, Bismillah~
One thought on “Self-evaluation”