Bismillaah, Alhamdulillah. Seseorang ialah hasil dari proses yang sebelumnya telah ia lalui, berupa hal-hal yang dipelajari bersama pengalaman-pengalaman yang membersamai. Begitu besar sekali dampak sebuah kebiasaan bagi seseorang, yang secara tak langsung membentuk pola pikirnya, pandangannya dan cara ia bersikap. Tak semua kebiasaan itu baik, seringkali kebiasaan itu menurut kita baik tapi padahal adalah perbuatan yang sia-sia. Dimana tentu keIslaman seseorang dinilai baik saat ia mampu meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dan juga kita dianjurkan berdoa perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat. Bahwa betapa pentingnya kita untuk mengevaluasi kebiasaan kita sehari-hari, baik itu dengan membuat agenda, hal-hal yang ingin dilakukan dan tidak dilakukan, dll.
Dalam proses mengevaluasi kebiasaan, seringkali ada banyak hal yang sudah di sadari sedari dulu bahwa ada sesuatu yang salah. Tapi, sayangnya hal itu tak lantas membuahkan solusi. Bahwa betapa pentingnya memohon petunjuk Allah SWT serta mempersiapkan diri agar mampu menerimanya.
Begitu banyak kebiasaan-kebiasaan yang perlu kita perhatikan lagi, termasuk kebiasaan seperti sering mengecek handphone ataupun sosial media. Kita mungkin merasakan dampak dari hal itu seperti lebih impulsif, kurang sabar, terasa hampa, dllnya.
Era saat ini sangat cepat, sangat efektif. Dulu, membutuhkan waktu yang lama untuk bisa bepergian. Sekarang, semuanya benar-benar menjadi cepat. Tak hanya itu, juga mudah dan juga murah. Kini, ada banyak hal yang bisa dikerjakan dalam waktu yang sama, ada banyak hal yang tak perlu berlama-lama, serta semua hal menjadi mudah untuk diketahui. Seakan universitas hanya sekedar lembaga legalitas untuk mengeluarkan ijazah, yang belum tentu bisa ia gunakan juga dalam kehidupannya. Untuk pekerjaan yang sama dengan sebelumnya hanya membutuhkan waktu sedikit, akibatnya? Banyak waktu tersisa tapi sayangnya sering digunakan untuk hal yang tidak bermanfaat.
Semua hal di era ini bukankah mengingatkan kita tentang proses yang agaknya bisa dipersingkat, atau sebaiknya dihilangkan. Tentang budaya instant yang seolah menjadi keseharian. Tapi ini bukanlah tentang produktifitas, walau terkesan sama, tapi sungguh berbeda.
Tentang proses sangat erat kaitannya dengan keyakinan, dengan kesabaran, dengan konsistensi. Bahwa saat ini banyak orang-orang yang sulit sekali yakin, mudah sekali terombang-ambing bahkan hanya dengan apa kata orang. Bahwa saat ini banyak yang sulit sabar, mudah sekali putus asa bahkan tak terkendali emosinya. Bahwa banyak yang sulit untuk konsisten dengan apa yang ditetapkan di awal, dimana begitu banyak godaan yang tak terelakkan.
Saat ini, kita masih Allah SWT karuniakan waktu untuk bisa melakukan amal yang semoga menjadi bekal terbaik kita di kubur, di akhirat kelak yang sungguh tak terbayangkan betapa mengerikannya nanti:”(. Karena setiap waktu yang terlewat di dunia akan menentukan sebesar apa kelezatan yang kita rasakan di akhirat:”). Maka, semoga kita bisa terus belajar memperhatikan proses kehidupan kita dari kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk di dalamnya, karena setiap hal di dalam proses inilah yang kelak akan di hisab di hari akhir kelak, bukan tentang pencapaian-pencapaian di dalamnya… Bismillaah, hayu kita berusaha~
~ 21 Sya’ban, H-8 Ramadhan 1442 H~